3 Jun 2019

Radical Vs Radicalism


Setelah beberapa tulisan saya yang berkaitan dengan issue politik dipendam bertahun tahun, akhirnya  saya “terpaksa” menyentuh wilayah super sensitive ini
Sejujurnya saya tidak tertarik dengan hal berbau politik dan segala sebab akibatnya (seperti sudah sering saya bilang), rasa gemes lah yang akhirnya membuat saya menerbitkan sedikit uneg uneg absurd, yang saya coba rangkum menjadi sebuah anilsa bodoh berbentuk tulisan nggak mutu ini.. hehehe..
Straigh to the point, sebelum masuk ke inti permasalahan, setidaknya saya mencoba memahami arti kata radikal dan radikalisme secara popular
Merujuk pada beberapa literatur, pengertian Radical adalah : sebuah perasaan (afeksi) positif terhadap sesuatu yang bersifat ekstrim sampai ke akar akarnya, sikap radikal (menururt Dr.Sarlito Wirawan:2012) akan cenderung membela mati matian mengenai suatu kepercayaan , keyakinan agama, atau ideology yang dianutnya.
(Kika Nawangwulan: 2015) lebih tegas mengatakan bahwa radical adalah sebuah perilaku / perbuatan kasar yang bertentangan dengan norma dan nilai nilai sosial
Di adopsi dari bahasa Latin, Radix / Radic yang berarti “Root”, Radical adalah sebuah perilaku yang merupakan ekspresi yang berdasar pada keyakinan yang terakumulasi dalam jangka waktu yang lama dan telah mengakar pada diri sesorang (menurut saya)
Si “Radical” ini sebenarnya bukan barang baru, sejak abad ke 19, pergerakan ini digunakan pada saat terjadinya revolusi perancis oleh sekelompok orang untuk secara drastic merubah haluan politik dan sistim pemerintahan
https://www.encyclopedia.com/history/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/radicals-and-radicalism
jamanya civil war di Amerika, perilaku ini juga telah menjadi “Label” kelompok republican untuk menyerang kelompok konfederasi dengan issue sosial dan hak asasi demi merubah arah haluan politik Amerika.
Ok, Stop belajar Sejarah, Sekarang apa bedanya Radical dengan Radicalism?
Radikal gampangnya adalah sebuah perasaan dan perilaku yang tertanam dalam diri sesorang, kalaupun akhirnya nanti akan tersalurkan dalam bentuk perilaku positive atau negative, ya tergantung dari apa yang dipahami ornag yang bersangkutan… kok gitu?
Apa yang salah dengan pemahaman radikal? Ngga ada yang salah… yang salah itu kalau outputnya akan merugikan orang lain, Simplenya gini, kalau kita berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada dan kita tanamkan pada diri kita bahwa Tuhan itu mengajarakan hal baik dan tidak boleh manyakiti mahluk lain, ya outputnya, kita akan memiliki sebuah pagar kokoh dalam diri kita untuk percaya kepada Tuhan dan selalu berpegang apda prinsip kebaikan.. (jangan di debat dulu ya..)
Sebuah perilaku yang cenderung bersifat keyakinan teguh terhadap sebuah hal dengan output positive (atau hanya untuk konsumsi diri sendiri tanpa melibatkan orang lain) ini, lebih dikenal dengan perilaku Fanatis / fanatic.
Kita ngga akan membahas fanatic / fanatisme dalam ulasan ini deh.. ntar kepanjangan.. :p
Balik ke Radikalisme, bedanya dengan radical, Radikalisme ini adalah biang kerok dari berbagai perilaku yang terakumulasi akibat paham yang di suntikan secara terus menerus kepada orang orang melalui jalur yang mereka yakini (contohnya Agama)
Nah.. that’s why I never and ever likes politics.. dalam Politik, yang hitam bisa jadi putih dan yang putih bisa jadi ijo..  Sebut aja saya Naif, tapi saya orang yang bisa membedakan mana Politik dan mana Agama.
Masalahnya adalah, Para politikus berkualitas rendah di negeri ini  selalu mencampur adukan unsur Agama untuk memuluskan keinginan mereka menjadi penguasa, semua hal yang berbau kualitas individu dan parameter kapabilitas seseorang untuk menjari pemimpin akan jadi Absurd, karena berbenturan dengan suatu hal yang abstrak ! boro boro mereka punya program dan rencana berkualitas untuk memajukan bangsanya.. hampir semua yang di propagandakan seolah hanya mimpi di awang awang dan 99% jauh dari applicable, Debat dengan merekapun akan berujung pada pak kusir yang sedang bekerja.. alias debat kusir ! karena segala logika akan terbentur dengan tembok besar bernama Agama.
Jangan Melotot lah.. saya punya Agama dan saya percaya Tuhan, tapi sebuah Negara kan juga harus tetap memiliki integritas dalam perjalananya, semua hal harus memiliki porsi yang cukup, demi tegak dan majunya sebuah bangsa.
Buat saya, persaingan politik haruslah berpegang pada prinsip dasar tata Negara dan mempertimbangkan kemakmuran dan kemajuan bangsa, buatlah program berkualitas dengan berkaca pada prestasi yang telah dicapai di era sebelumnya, bukan hanya retorika belaka yang penuh janji manis dan penggalangan opini tentang sebuah kegagalan dan ajakan untuk bertindak radikal demi mencari kuasa.
Sejak dilahirkanya NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Burung Garuda sudah terbukti menjadi trio sakti yang mampu menahan berbagai ideologi dan paham miring yang selalu mencoba untuk merubah haluan negeri gemah ripah loh jinawi ini, (btw, ini terlepas dari beberapa penguasa yang serakah memperakaya diri sendiri loh yaaa)
Ribuan rakyat, ratusan pahlawan dan puluhan martirpun telah berpulang demi mempertahankan sang Negeri Demokrasi yang disegani seantero jagad! Jangan pernah lupa itu!
Mau bertindak Radikal? Boleh… silahkan berhadapan dengan hukum dan undang undang
Mau berpaham Radikalisme? Juga Boleh… silahkan yakini apa yang dipahami.. tapi Sendiri ! tetap dalam kardusmu! Gak usah  pengaruhin orang lain!
Kenapa Melotot? Yang udah udah kan selalu akhirnya orang lain yang rugi, saat kamu memaksakan radikalismemu, iya kan?
Berpolitik tuh yang Keren, prestasi dan kualitas dulu tunjukin! Baru koar koar
JOEY B SAY NO TO RADICALISM (2019)

Terpapar effect



“Hmm…”  kurang lebih itu guman saya, saat mendengar kata “Terpapar” yang akhir akhir ini jadi trending topik hampir disetiap obrolan dengan berbagai kalangan.
Mahasiswa terpapar, Militer Terpapar, anak anak terpapar, tukang krupuk, tukang bakso terpapar…
Kenapa nggak ter”tampar” atau ter”gampar” aja sekalian?
Saya juga pernah terpapar… terpapar cinta… wuah berjuta rasanya, hari hari menjadi begitu indah, semua terlihat sempurna dan hiduppun terasa panuh semangat membahana.. ahahaha…
Maaf, ngga maksud mencibir ataupun meremehkan keadaan papar mempapar ini, tapi nggak sekali dua kali saya dihubungi, didatangi, di lobby mereka yang mencoba me”mapar” saya dengan keyakinan mereka terhadap suatu hal.
Hasilnya, mereka balik badan dan ngedumel karena ngga bisa mempengaruhi saya.
Buat saya, janji janji manis dan masa depan bertabur bintang yang mereka lontarkan, hanyalah sebuah khayalan yang akan berakhir tragis… khususnya buat saya.
Lha wong, saya ini dari dulu diciptakan harus bekerja dan berjuang mencari rejeki plus pontang panting nambah ilmu untuk meningkatkan kualitas hidup, tolong dicatat, sampai detik inipun saya berdiri, bukan merupakan sebuah hasil karena hanya nurutin kata orang harus begini dan begitu.
Pergolakan yang terjadi di negeri ini, bukan hanya sekali diramaikan masalah papar memapar ini.
Kalau boleh saya mencari padanan kata “Terpapar”, mungkin akan lebih tepat kalau menggunakan kata ter”pengaruh”, ter”kibuli” atau ter”gombali”
Kata “Terpapar” yang saya kenal biasanya digunakan dalam konteks epidemik sebuah wabah penyakit yang menyebar dengan cepat dalam sebuah lingkungan, obatnya… gampang saja, isolasi daerah itu dan cari penyebabnya untuk selanjutnya tinggal diberikan obat penawar.
Layaknya sebuah wabah, Trend “Terpapar” saat ini memang agak sedikit lebih rumit untuk disembuhkan, karena lebih dekat kepada unsur sosiologi dan intelektualitas ketimbang unsur biologi.
Radikalisme adalah sebuah sel yang tertanam disetiap manusia, semua orang memilikinya, sejauh mana sel ini akan berkembang biak dan menyebabkan kerusakan, semua tergantung pada sang manusia.
Dalam dunia Intelejen, “Power of repeatation” atau kekuatan pengulangan, dikenal cukup ampuh untuk merubah cara pandang sesorang terhadap suatu keyakinan, cara yang sama, tanpa kita sadari, juga  dilakukan dalam bidang lain bernama “marketing”, saat sebuah produk berulang kali di promosikan sebagai barang murah atau diskon gede gedean, maka tinggal masalah waktu kita yang mendengar akan mempercayainya tanpa mempertimbangkan kualitas dan logika.
Power of repeatation dalam sejarahnya pernah dilakukan dalam bentuk propaganda oleh negeri berorientasi “tidak ber Tuhan”, para penguasa melakukan himbauan dan ajakan untuk mempercayai apa yang dikumandangkan, demi meningkatkan kepercayaan, bahkan membuat sesorang bertindak irasional dan berperilaku ekstrem.
Sejarah telah mencatat hasilnya, ribuan rakyat jepang mati sia sia saat Herosima dan Nagasaki luluh lantak dihajar bom atom, ratusan pilot melakukan kamikaze demi harga diri, jutaan orang mati sia sia karena sebuah keyakinan bahwa ras Aria lebih superior dari ras manapun dan puluhan ribu sapi harus dibakar karena ter”papar” virus antrax.
Semua berakhir tragis, bahkan polemik politik di Venezuelapun yang paling up to date, berakhir dengan skor satu kosong untuk pemerintahan yang sah.
Jangankan anda, sayapun geram melihat begitu banyak orang bertingkah aneh bin ajaib demi membela keyakinanya yang (menurut saya) tidak selalu memiliki kualitas.
Terus.. apa yang bisa kita lakukan? Jujur ya... ngga ada… kalau kita sendiri ga total melawan.
Bukan kita yang memulai perang, tetapi mereka duluan yang menabuh genderang perang!
Jadi, sebaiknya kita harus lebih cerdas membangun strategi untuk bertahan dan melawan di tempat dan saat yang tepat! Itu kuncinya!
Konfrontasi jelas bukan pilihan, karena itulah yang mereka (para kaum pemapar) tunggu dan cari.
Kata kuncinya “cerdas”, mereka yang mudah ter”papar” adalah mereka yang hanya hidup dalam tempurungnya sendiri dan menjunjung mimpi sebagai sebuah prestasi.
Sigmund Freud https://psychoanalysis.org.uk/our-authors-and-theorists/sigmund-freud, jauh jauh hari sudah mengingatkan bahwa Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari 3 unsur utama alam bawah sadar, conscious, preconscious dan sub conscious, semua perilaku kita tanpa kita sadari bergantung pada 3 hal tersebut.
Saya ber teori, ada 3 kelompok manusia yang rentan ter”papar” suatu faham yang kontra dengan norma norma sosial dan berkehidupan.
  1. Golongan Apatis, mereka yang tidak peduli tergadap aspek sosial, hanya mengeluh dan mengharap perubahan jatuh dari langit
  2. Golongan Oportunis, mereka yang mencari panggung untuk kepentingan diri sediri
  3. Golongan phragmatic / fragmatis, mereka inilah yang cenderung memiliki skill tertentu dan menjadi sumber utama yang me”mapar”kan hal tertentu demi kepentingan mereka
Lho ? berarti semua orang bisa terpapar dong? Sedihnya.. iya, tapi jangan lupa kita masih punya Golongan Idealis dan yang utama adalah Golongan “Waras”is alias kelompok orang orang waras! Wkwkwk… sebenarnya, analisa strategis saya lebih dalam mebahas hal ini, tapi atas nama ke hati  hatian, saya tidak dapat secara gamblang memaparkan seluruhnya kepada publik.
Seperti sudah dibahas diatas, Power of repetation, adalah strategi yang umumnya digunakan oleh mereka yang mencoba me”mapar”kan suatu hal yang Seolah olah benar, dengan bumbu radikalisme.
Mereka akan meng ulang ulang narasi yang sama, dengan kedok perintah Agama (biasanya) dan tambahan bumbu fitnah dan cerita karangan versi mereka, demi mempengaruhi korbanya.
Parahnya lagi, mereka adalah orang orang yang tidak bersembunyi dan ada di depan kita, merekapun  tampil sebagai sosok yang secara kasat mata terlihat patut untuk dijadikan panutan.
Dalam perjalanan Negeri bernama Indonesia, sudah berkali kali kita di hadapkan pada konflik berbau separatisme dan radikalisme, dan berkali kali pula Burung Garuda penjaga NKRI Tegak berdiri bersama dasar Negara Pancasiladan UUD1945.
Teori Sigmund Freud pada intinya mengingatkan kita agar selalu dalam keadaan “Alert”, waspada pada setiap kondisi dan siap melakukan tindakan preventive untuk menghindari keadaan terburuk.
Setuju, bahwa manusia suatu saat akan memiliki kelengahan, tetapi jangan lupa, Tuhan memberikan early warning bernama firasat dan logika pada setiap mahluknya.
Ketahui dulu siapa lawanmu maka kamu akan tahu cara paling tepat untuk menghadapinya, gitu kata sun Tzu, seorang jenderal ahli strategi perang yang menulis teori strateginya di abad ke 6 sebelum masehi dan masih dijadikan acuan seluruh militer dunia sampai saat ini.
Sedangkan teori saya mungkin terdengar agak absurd, “layaknya membengkokan sebatang Besi yang Lurus, kita akan berupaya sangat keras untuk membengkokanya, tetapi apabila sebuah besi telah bengkok, apapun upaya yang dilakukan untuk meluruskanya, kalaupun berhasi kelurusan sang besi tidak akan pernah sempurna.
Demikian juga dengan Manusia, semua terlahir “Lurus” tanpa cacat dan cela, orang tua manapun tidak akan mem”bengkok”an jalan seorang anak menuju arah yang salah.
Mereka yang berada di sekitar kita, orang tua, anak, kakak, adik, saudara, teman, sahabat harus saling menjaga dan saling mengingatkan.
Katakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar!
Jadikan Ilmu pengetahuan, pengalaman dan Agama sebagai satu kesatuan formula untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sebagai bagian yang terpisah.
Bukan hal yang mudah merubah suatu hal yang tanpa kita sadari sudah terlanjur ter”papar” dalam jangka waktu yang lama.
Luangkan waktu untuk berpikir “Cerdas”, saat kita tahu orang yang kita sayangi mulai berperilaku anti sosial dan memiliki tendensi negative, bertindaklah segera tanpa kompromi.
Tidak ada yang bisa kita lakukan selain mencegah, karena kalau sampai kita harus merubah, maka perjuangnya akan jauh lebih sulit.
Jangan paparkan mereka yang masih “lurus” (anak anak yang masih dibawah umur dan mereka yang masih mencari jati diri) dengan hal yang tidak kita ketahui.
Berikanlah mereka hak dalam menetukan pilihan dan perkaya dengan kemampuan tambahan yang bersifat sosial, seni, budaya dan teknologi.
Jauhkan segera dari lingkungan berpengaruh buruk, bahkan dalam hal pendidikan sekalipun.
Dan jangan pernah lelah dan lengah, karena mereka yang mencari mangsa akan terus mencoba dengan segala cara.
Paparan Radikalisme tidak akan bisa kita hadapi dengan kekuatan apapun selain meng”upgrade” diri kita sendiri dengan pola pikir yang berdasar pada logika dan keterbukaan wacana.
Setuju, bahwa segala hal yang berbau duniawi adalah hanya sementara, tapi jangan lupa bahwa kita berpijak pada bumi dan beratap langit selama kita masih bernafas, hargailah apa yang maha kausa berikan kepada kita, toh kita tidak harus menuruti “kata orang” untuk menuju kehidupan kekal selanjutnya kan?
Terpapar atau memaparkan diri adalah sebuah pilihan.
Cerdaslah dan pertimbangkan dirimu dan lingkungan terdekatmu sebelum kamu memikirkan orang lain yang “belum tentu” memikirkanmu disaat mereka sudah menguasaimu demi kepentingan mereka.
Middle 2019
Joey B
Saya Masih waras








18 Mei 2019

What doesn’t kill me, Makes me stronger!



Saat kita masih kecil, kita selalu berlari kearah ibu dan bapak.. mencari Mereka saat ia hilang dari sudut mata.. menangis demi mencari perhatianya dan menolak berjalan demi merasa aman berada di dekapanya
Kita tak pernah malu.. kita tak pernah ragu.. karena kita tahu kita dalam lindungan Mereka
Saat kita mulai belajar membaca dan memiliki teman sebaya, kita mulai bertanya pada mereka.. ini apa? Itu apa? Kenapa begini? Kenapa begitu? Dan dengan sabar, Mereka selalu menjawab pertanyaan kita satu persatu
Saat kita bisa membaca dan berhitung, mulailah Tuhan meng”install” software bernama “malu”
Boro boro memakai baju bergambar monyet dan pisang.. digendongpun kita tak mau.. “aku kan malu dilihat teman teman.. “ iya kan ?
Tapi tetap dengan sabar, Mereka selalu menyiapkan seragam sekolah kita, mengisi lunch box kita dengan berbagai makanan dan minuman bergizi, membantu mengerjakan Pe Er,  me-nina bobokan kita saat rasa kantuk mulai datang dan berbagai hal lainya yang akan selalu dan “always” berhubungan dengan kesehatan, keselamatan dan kesenangan kita.
Disaat kita sudah mahir membaca dan menghitung, mullailah kita berusaha menanggalkan atribut “anak kecil” kita dengan segala hal yang kalau diingat ingat lagi.. mungkin sangat memalukan
Menolak dimandikan.. sudah pasti ^_^ , mulai bergaya dan berdandan bak orang dewasa.. ikut ikutan trend paling up to date.. dan menahan tangis sebisa mungkin supaya gak dibilang cengeng.. wkwkwk..
Waktu terus berjalan sampai kita mengenal sebuah rasa abstrak bernama “cinta”.. 4 huruf pengganggu emosi ini seakan menjadi sebuah persimpangan keramat diujung  jalan yang sebelumnya lurus lurus aja.. , mau ke kiri atau ke kanan ?
Jangankan di ingatkan teman.. nasihat orangtuapun gak akan mempan, saat kita mulai mempertimbangkan mau pergi nonton sama pacar, tapi tahu pulangnya akan kemaleman atau menolak nonton, karena takut kena marah pulang kemaleman.. semua menjadi ruwet karena mempertimbangkan “atas nama cinta”.. ahahaha..
Akhirnya tetep nonton dan bersiap dengan segala alasan :)
Selanjutnya.. masalah demi masalah silih berganti menerpa kita, bak hujan deras yang tak kunjung reda..
Cemburu, Putus cinta, nilai ujian jelek, ketahuan bo’ong, jatuh sakit, sedih karena berantem dengan sahabat, dan ini itu lainya
Begitulah.. mau salahin siapa? Kan semua pilihanmu sendiri.. itu yang dikatakan orang tua, saat kita duduk berhadap hadapan di meja makan dalam sebuah sidang keluarga.
Tahun berlalu silih berganti dan sampailah kita pada sebuah keputusan untuk menjalani hidup dengan orang yang kita cintai.
Minta restu orang tua? Aturan Klise, Jelas akan tersirat.. tentu saja ditambah addendum lainya.. umur cukup, Sekolah sudah selesai, sudah bekerja, sopan dan minimal udah pernah makan malam bersama keluarga sebanyak 12 kali (kalau dihitung bulanan, berarti pacaran minimal setahun dan dinner sebulan sekali ya..)
Segala masalah dan perjalanan hidup yang kita lalui mulai meredup, menuju sebuah babak baru yang kalau di analogikan menjadi sebuah buku.. baru sampai di bagian sampul depan.. dan "sialnya" nggak ada chapter index yang bisa jadi patokan, untuk mengetahui akhir ceritanya akan gimana.. paling pol juga ada referensi dari para pendahulu, yang malah cenderung bisa bikin tambah stress.. wkwkwk..  selamaat.. semoga awet sampai usia senja yaa..:)
Tuhan sungguh amat bijaksana, Ia hanya meng “install” program "rasa malu" di dalam diri kita, sedangkan program lain bernama “Tanggung Jawab” tak akan pernah diberikanNYA
Pelit? Enggak laah..
Ia tahu.. “Tanggung Jawab” adalah “Program kualitas Super” yang harus kita cari sendiri.. bagaimanapun caranya.. apapun resikonya..
Karena Program ini tidak dapat berdiri sendiri, Program ini akan terus ter”Up Grade” saat kita terhadang masalah dan mempertimbangkan berbagai hal, plus dengan mengerahkan segala daya upaya untuk mencari sebuah jalan keluar.. ber ulang kali! Catet ya.. ber ulang kali!
Tempaan demi tempaan adalah sebuah kekuatan.. "What doesn’t kill me, Makes me stronger!" Kurang lebih gitu kata orang bule
Sampailah kita pada babak baru di halaman tengah sebuah buku.. sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak dan bonus segudang tanggung jawab di dalamanya
Suatu masa, saat kita selesai dengan segala tanggung jawab kita sehari hari..  
Segelas teh panas dalam genggaman akan menemani kita melepaskan lelah bersama sebuah sofa..
Tanpa perlu dorongan sebuah drama, sang “malu” akan hadir mengingatkan kita..
tentang sebuah cerita.. berjudul
Tanggung Jawab yang dahulu kala harus dipikul oleh kedua orang tua kita
Tanggung Jawab yang dahulu kala kita bantah demi eksistensi semu semata
Tanggung Jawab seorang ayah dan ibu, yang tak pernah putus dimakan masa

Dapet salam dari “What doesn’t kill me Makes me stronger”
Makanya kalau dikasih tau orang tua didengerin..
Mereka kan pernah seumur kamu dan kamu kan berlum pernah seumur Mereka

May 2019
JB Handoyo
anyway.. You don't need to get killed just to have responsibility.. right?

16 Mei 2019

Footsteps in a sand



06:10 , too early to check in.. pikir gw dalam hati saat melirik angka digital yang menampakan dirinya  sebagai screen saver
Saat pramugari membuka pintu, segera gw samber backpack di bagasi atas dan ngeluyur kearah pintu sambil melewati barisan orang orang yang masih sibuk meraih koper, tas, bungkusan, boneka, kardus, bocah rewel  dan segala macam barang yang mereka bawa.. Gosh, what is wrong with these people.. kenapa juga sih mereka selalu merepotkan diri dengan begitu banyak barang yang harus dibawa saat traveling? Apa mereka pikir mau pindahan?
Melenggang dengan apa yang ada di badan plus 1 backpack, buat gw udah lebih dari cukup untuk bertahan beberapa minggu di pulau kosong sekalipun, mungkin gw yang aneh.. tapi biarlah, semua punya urusanya masing masing.
Pemandangan yang sangat akrab juga terlihat di area baggage claim, segerombolan orang sibuk menunggu barang mereka yang melenggak lenggok bak pragawati di luggage belt
DK 1756 , ini dia.. sedikit berjongkok, masukin tangan keatas ban bagian depan dan Got it ! nongol sebuah kunci yang tertempel di bagian atas rongga  ban .. seperti biasa, alarm off dan semenit kemudian gw sudah melaju diantara pohon bakau yang berjejer di pinggir jalan
Pagi itu sedikit mendung, saat gw taro pantat seenaknya di kursi pantai, sambil memasang lensa 135-400 andalan yang setia nemenin kemana mana
Mungkin sudah kebiasaan, entah buruk atau baik.. nih tangan selalu menggenggam kamera saat berada di alam bebas, karena gw pikir.. moment super gak akan pernah terulang saat mendadak muncul di hadapan kita
Masih belum terlalu banyak aktivitas di sepanjang pasir putih yang terhampar di depan mata, sambil abisin teguk terakhir didalam botol hijau yang ada disamping, gw pun beranjak
Bro, aku tak kelilingan sik yo..  
Santai bro .. jawab anak banyuwangi yang mencoba peruntungan berjualan di situ, dan telah menjadi “Ma Best Friend”  hampir lebih dari 8 tahun
Sapasang tapak kaki jelas terlihat, sepanjang pantai berpasir putih yang airnya menyurut saat gw berjalan menju teluk berkabut tipis
Hanya Sepasang..  milik satu orang yang berjalan tanpa arah tujuan..
Dimana Tuhan ?
Kenapa gw Jalan Sendirian ?
Kenapa Gw akhirnya selalu harus kembali ketempat yang sama.. disaat suasana hati yang sama.. dan melakukan hal yang sama.. sendirian..
Angin berhebus sedikit keras, bersamaan dengan sapuan ombak yang menerjang kaki dan menghapus jejak yang gw tinggalin di belakang..
Seketika gw sadar, ngga pada tempatnya gw bertanya & ga pada tempatnya juga gw ngedumel..
Bagai film beralur flashback, memory gw meluncur mundur dalam sekejap
Di tempat yang sama.. dengan suasana hati yang sama.. dan melakukan hal yang sama..
Yang membuat semua berbeda adalah.. saat itu ada 2 pasang tapak kaki.. ada 2 orang yang berjalan
dan ada 1 orang yang mengatakan..
“Jangan pernah kamu merasa sendirian, saat kamu berjalan di pantai dan melihat sepasang tapak kaki mengikutimu di atas pasir.. itu bukan tapakmu, itu tapak kakiNYA, yang selalu setia mendampingimu kapanpun dan kemanapun kamu pergi , serta menuntunmu supaya kamu tidak berjalan kearah air yang dalam”
Bersyukurlah saat masih ada orang yang mau memberimu nasehat dengan tulus
karena saat kamu harus kembali mengingat apa yang dikatakanya, terkadang ia sudah tak lagi ada.

Flashback 2009 

The Island of God
JB Handoyo
May 2019